Kamis, 03 November 2011

Jika Aku adalah Tulang Rusukmu yang Patah

                Inilah aku beserta kisah Adam dan Hawaku. Kisah itu yang selalu aku dengar sejak aku kecil dan mulai membentuk asumsi ketika aku beranjak remaja khususnya tentang apa itu CINTA. Cinta, menurut beberapa syair lagu itulah yang selalu menyakiti mayoritas pengagum cinta. Cinta itu pelik dan kotor, penuh penyelewengan, korupsi, yaaa sudah layaknya seperti dunia politik Indonesia saat ini yang penuh dengan konspirasi.
           Adam dan hawa, dua insan yang diciptakan Tuhan sebagai bekal adanya manusia - manusia selanjutnya termasuk di dalamnya diriku. Kedua orang ini sempat terpisah dalam kurun waktu yang lama sebelum akhirnya mereka dipertemukan dengan jalan yang telah diatur oleh Tuhan sedemikianrupa. Ini mirip kisahku. Dia yang aku cari selama ini pernah menjauh, bahkan sangat jauh berada dalam tempat yang tak mungkin aku jangkau sekalipun aku telah meminta bantuan tangan - tangan teman - temanku setidaknya dengan tujuan untuk memperpanjang jangkauan tangan ini. Ia seolah hilang di telan bumi. Ya memang dia ada di dalam bumi ini dimana di atas bumi itu aku memijakkan kakiku. Namun, aku sendiri tidak pernah tahu dimana letak koordinat yang tepat untuk dapat menembus bumi ini pula sehingga aku bisa bersamanya meskipun aku harus menembus lapisan astenosfer dimana di lapisan itu terjadi arus konveksi bumi. Hmmm... konyol memang, perjuangan yang tak masuk diakal.  

    
                
                 Semakin aku mencari, semakin aku kehilangannya pula. Ini salahku. Ia yang pernah mencariku ketika aku masih berada di negri atas awan ternyata aku sia -siakan dengan alasan "dia adalah dewa bumi yang tak pernah jelas apakah ia lebih menyukai panas dari magma atau dingin terpaan angin dari negri dimana aku tinggal, langit". Dan ketika itu, ada bisikan yang mengatakan bahwa dia pasti lebih memilih magma yag bisa memanaskan dia dan karena itu memang tempat hidupnya. Baiklah, langit pun mengalah untuk kerabatnya, yaitu bumi. 

                      Aku berjalan sendiri, menyusuri tiap tikungan dan liku siku - siku dari gang gang di pingir jalan yang kumuh itu. Aku kosong dan hampa seakan akan aku adalah dewi langit yang baru saja terkena SP III dari sang baginda raja Langit sampai - sampai aku dilemparnya ke bumi yang kumuh ini. Aku memulai hidupku sendiri, sepi, dan mulai beradaptasi dengan bumi, meskipun aku tahu aku sempat pernah mengenal salah satu dewa bumi di dalam sana. Aku mencari jati diriku di atas tempat dimana ada sebuah titik kehidupanku yang tiba - tiba saja hilang, entah karena terpaan angin dari negeriku atau meleleh terkena panas dari magma di bawahku ini. 
              
                   Ya, intinya dewi langit dan dewi bumi mungkin tidak akan pernah bersatu. Demikian pula aku dan dia. Uppsss...tapi itu hanya sebuah KEMUNGKINAN. Kemungkinan yang absurd dan tidak akan penah ada buktinya. Ya sudahlah aku pun mulai lelah dengan pencarianku ini. Cinta yang aku yakini akan membawaku menemukan sebuah titik yang hilang dalam kehidupanku justru semakin merontokkan titik titik itu dari roncean kehidupanku yang telah aku susun baik baik. Ya ya ya memang sepertinya para pencipta lagu benar akan semua kisah galau-nya dan kepahitan yang diberikan oleh cinta. 
                    
                     Aku terus berjalan menelusuri gang kumuh tadi hingga aku mulai mendapatkan titik terang dalam hidupku. Dewa bumi itu. Ya aku bertemu dia dipersimpangan gang kumuh ini yang sulit aku pilih. otakku chaos memikirkan hal ini. banyak rintangan diantara dewi langit dan dewa bumi untuk bersatu seperti halnya kisah Adam dan Hawa. namun satu keyakinannku


                   rintangan datang silih berganti
                   perjuangan harus tetap teradi
                  jika aku memang bagian dari dirimu yang rusak
                 akuah yang akan menjadi alat dan bahan perbaikannya
                dan jika aku merupakan tulang rusukmu
                 aku pasti akan kembali padamu

0 komentar:

Posting Komentar