Selasa, 24 September 2013

MENYOAL PILKADA LANGSUNG


Tulisan ini dibuat dalam rangka Focus Group Discussion Kelompok Studi Pemerintahan Local FISIP UNDIP

Salah satu agenda reformasi tahun 1998 adalah adanya Otonomi Daerah yang seluas-luasnya. Hal ini tidak lain dikarenakan adanya keinginan untuk menerapkan demokrasi yang murni di Indonesia. Dengan penerapan demokrasi ini, maka rakyat menjadi kunci utama di dalamnya. Konsekuensinya haruslah ada pemerintah yang berpihak kepada rakyat, mau mendengar dan mengikutsertakan rakyat, dekat dengan masyarakat, serta memungkinkan rakyat mendapatkan akses yang mudah untuk mengetahui transparansi secara lebih baik. Inilah yang disebut dengan pemerintah daerah.
 Setiap pemerintah daerah dipimpin oleh kepala pemerintah daerah yang disebut kepala daerah. Kepala daerah untuk provinsi disebut gubernur, untuk kabupaten disebut bupati dan untuk kota adalah wali kota. Kepala daerah dibantu oleh satu orang wakil kepala daerah, untuk provinsi disebut wakil Gubernur, untuk kabupaten disebut wakil bupati dan untuk kota disebut wakil wali kota. Kepala dan wakil kepala daerah memiliki tugas, wewenang dan kewajiban serta larangan.
Proses pengisian jabatan kepala daerah ini pada awalnya dilakukan dengan cara penunjukan oleh DPRD. Namun dewasa ini, proses ini dilakukan melalui mekanisme pemilihan oleh rakyat yang disebut dengan pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) yang sejak tahun 2005 Pemilukada adalah secara langsung. Dengan kata lain, masyarakatlah yang menentukan, bukan lagi DPRD. Pemilihan langsung kepala daerah ini pertama kali dilakukan di Indonesia pada tanggal 1 Juni 2005 pada saat pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kutai Kartanegara.[1]

Kamis, 05 September 2013

Pendidikan sekarang itu milik Kapitalis!

Pagi ini entah apa yang merasuk dalam tubuh saya sehingga rasanya ingin sekali saya menyoroti tentang penddikan di Indonesia. Ditemani alunan lagu dari Kenny G (ya ini adalah lagu - lagu yang selalu menemani saya belaar dari jaman saya SD), segelas Teh Thailand yang dingin, alat tulis saya yang terdiri dari beberapa bolpoint warna wari;stabilo;dan beberapa sticky note, di dalam kamar kos yang cukup luas ini, saya tertarik untuk membaca buku yang berjudul Education Policy in Decentralization Era (Arif Rohman et all). Dalam buku ini ada satu hal yang sangat menggelitik "libido" saya untuk menulis tentang fenomena pendidikan di Indonesia.

Make a sense!
Mungkin, kita sama - sama pernah mendengar atau bahkan membaca karya sahabat Eko Prasetyo yang berjudul "ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH". Mungkin bagi sebagian orang ini hyperbola atau yang lainnya dengan alasan "Ada dana BOS, siapa saja bisa sekolah". Namun, apakah enar demikian?
Mungkin dana BOS membuat Orang miskin BISA SEKOLAH (SEADANYA). Ya, kenapa seadanya? karena pendidikan yang mereka peroleh juga masih tersandung infrastruktur yang kurang memadai, dari mulai akses jalan, fasilitas sekolah (buku, ruang kelas, hingga perpustakaan), bahkan yang paling miris adalah tenaga pendidik sekalipun. Bisa dilihat di harian Kompas edisi 8 November 2012 (saya pernah baca tentang ini) yang memuat sebuah artikel berjudul "Tak ada guru, Penjaga Sekolah pun jadi"

Namun, tahukan Anda bahwa sebenarnya pendidikan di Indonesia saat ini juga sebenarnya terlahir dari sebuah rekonstruksi pendidikan? Ya, pendidkan yang selama ini kita dapat (khususnya bagi generasi reformasi seperti saya) adalah hasil perbaikan dari yang sebelumnya (meskipun belum hingar bingar pembenahannya). Pendidikan di Indonesia telah mengalami perubahan kebijakan, dari yang tadinya sentralistik menjadi desentralistik dimana perubahan paradigma ini mendorong satuan pendidikan untuk dapat melakukan banyak perubahan menuju pada kondisi yang lebih otonom dan profesional. Jadi, satuan pendidikan bukan lagi sebaga sekrup - sekrup kecil yang berputar sesuai dengan keinginan mesin besar, pemerintah pusat. Karena tahukah Anda bahwa ketika hanya eprperan sebagai sekrup kecil, maka sebenarnya telah terjad stupidifikasi lembaga pendidikan yang ditandai dengan nojukphobia (ini istilah yang saya buat sendiri yang artinya adalah tidak bisa tidak berpaku pada juklak dan juknis).

Disisni lain, ternyata pergeseran kutub ini juga tidak berarti menafikan munculnya persoalan baru. desentralisasi pendidikan dalam kemasan baru yakni otomisasi pendidikan justru memunculkan fenomena baru yaitu Kapitalisasi pendidikan yang lebih menakutkan dari stupidifikasi. Secara negatif, kapitalisme pendidikan menganggap bahwa jasa pendidikan adalah komodities yang dapat diperdagangkan. Jasa pendidikan bukan diarahkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan bangsa yang semakin beradab, namun untuk Profit Motive Oriented. Akibatnya pendidikan seolah hanya mengakomodir kalangan elit tertentu.

Bahkan munculnya modifikasi pendidikan sebagai konsekuensi atas menguatnya kapitalisme pendidikan menjadi semakin jelas ketika bangsa - bangsa mulai terbuka dengan apa yang disebut dengan Perdagangan Bebas, khusunya mengenai GATS (General agreement on Trade and Services) yang disepakati oleh negara - negara anggota WTO pada akhir Mei 2005. GATS mengatur liberalisasi perdagangan dalam 12 sektor jasa, yang salah satunya adalah mengenai pendidikan. Dengan demikian dengan sangat mudahnya jasa pendidikan dari luar dapat masuk ke Indonesia yang tentunya menimbulkan High Cost in Education bagi Indonesia dan peningkatan PDB bagi negara eksportir jasa tadi. Bahkan tiga negara yang sangat diuntungkan dengan liberaisasi pendidikan ini adalah Amerika, Australia, dan Inggris.

Malangnya bagi Indonesia, seharusnya dengan dibukanya kesempatan Free Trade ini, Indonesia juga memilik celah untuk melakukan ekspansi pendidikan Indonesia, baik dari sisi teknologinya, budaya dan sebagainya ke berbagai penjuru dunia dan memperoleh keuntungan dari hal tersebut. Namun, sayang sekali, Indonesia sebaga sebuah negara besar dengan lebih dari 200 juta penduduk, hanya memiliki 14% dari total jumlah penduduk untuk tingkat partisipasi dalam pendidikan tinggi. Oleh karena itu, Indonesia menjadi incaran empuk negara - negara penyedia jasa pendidikan dan pelatihan. Selain itu, rendahnya perhatian pemerintah dalam hal peningkatan mutu pendidikan nasional juga membuat Indonesia tertinggal dari standar mutu internasional. Setidaknya dua alasan inilah yang dijadikan celah oleh negara lain bersedia "diundang" ke Indonesia untuk memberikan pelatihan dan pendidikan. Bahkan, China sampai - sampi meminta Indonesia untuk membuka pintu untuk penddikan kedokteran China.

Dari hal tersebut bisa dilihat bahwa, seandainya saja Indonesia bisa mengekspor tenaga pendidiknya ke luar negeri dengan memanfaatkan perdagangan bebas yang telah disepakati, betapa banyak peningkatan PDB yang akan kita rasakan. Pastinya hal ini akan menguntungkan pendidikan domestik, karena kita tidak perlu membayar mahal untuk pemenuhan pendidikan. Semua rakyat bisa sekolah tanpa ada batasan maksimal jenjang pendidikan. Semua murah, bahkan gratis. Semua pintar, bahkan mengajari bangsa lain. Bangsa ini akan lebih terhormat. Tidak ada lagi Orang Miskin yang tidak bisa sekolah. Karena Semua bisa sekolah dan tidak miskin.
Namun, kembali lagi, kita harus lihat Behavioral Approach-nya. Kalau ada Korupsi, maka semua hancur.

Inilah sepenggal curahat hati saya mengenai pendidikan di Indonesia. Semoga bermanfaat. Dan bagi teman - teman yang merasa membutuhkan tulisan-tulisan saya, tolong cantumkan link blog saya di daftar referensi teman - teman yah. Saatnya menyantap bubur ayam yang mulai mendingin.

Selasa, 03 September 2013

Teruntuk Dirinya

Hari ini aku belajar makna dari sebuah keikhlasan
Inilah hal yang paling mudah diucapkan namun sulit untuk direalisasikan
Ketika semua orang bahkan tidak berpihak kepada kita,
ketika orang - orang terdekat meninggalkan kita disaat kita harus berjuang
Percayalah, di hari itu pula, Tuhan menguji kita untuk berpikir, merasa, dan peka terhadap
setiap untaian kecil cerita kehidupan kita sebelumnya
Maknai semua itu dengan lapang dada, dan memahami maksud alam semesta

Bahkan sebuah kata pengorbanan, bagiku sebernanya tak pernah ada
Mencintai sesuatu, apapun itu, 
Kekasih, Teman, bahkan hingga orang tua. 
Bukanlah sebuah pengorbanan
Sejatinya, apabila itu tulus dari hati, maka tidak ada satu hal pun yang mengorbankan diri atau merasa dikorbankan

Memang alam ini terkadang tidak berpihak pada kita
Ketika orang lain justru menuntut sesuatu yang tak pernah orang lain minta,
ketika yang tercinta meninggalkan kita untuk selamanya, dan takkan pernah kembali
Ketika semua pihak mempersalahkan
Inilah saat dimana saraf sensitif manusia diuji
mencari mana yang berpihak, mencari apa yang dimasud dunia

Aku disini, hanya patut meminta kepada Tuhan 
Tentang semua yang terjadi hari ini, esok, dan seterusnya

Selasa, 13 Agustus 2013

My Second Thailand, Asean Youth Exchange Program, Asean Study Center Chulalongkorn University

Lama sekali rasanya tidak menulis di blog ini. sekarang saya kembali dengan cerita saya yang baru.
Ya, cerita ini adalah cerita tentang saya dan teman - teman ASEAN saya dalam acara ASEAN Youth Exchange Program yang di selenggarakan oleh ASEAN Study Center Chulalongkorn University Thailand.

Kalau tahun lalu saya ke Chiang Mai University dan berkesempatan merasakan bangku kuliah disana, kali ini saya ke Chulalongkorn University di Bangkok. Universitas di Thailand yang konon kabarnya Universitasnya keluarga Royal dan orang-orang terpilih. Yah mungkin bisa dikatakan seperti UI nya Thailand.
Kesempatan kedua saya ke Thailand ini sedikit berbeda dengan cerita tahun lalu. Kalau tahun lalu memang niat banget dan sangat mempersiapkan diri, kemarin ini saya lebih "selow" karena 
1. Yang nyeleksi bukan orang Indonesia, tp dari Thailand Langsung
2. Peserta yang diambil dari seluruh ASEAN
3. Waktu itu mau UTS
4. Tahu informasi ini mepet deadline
5. Kirim berkas adalah H - 28 Jam sebelum deadline
karena lima alasan itu, jadi semua yang terjadi saya serahkan pada Allah SWT. Kalau memang rejeki, pasti lolos.

selain itu perbedaannya juga terletak dari bentuk kegiatannya, kalau dulu banyak belajar tentang budaya, kemarin ini lebih cenderung ke dunia Politik (saya bgt) lebih tepatnya tentang ASEAN Comunity. Selain itu di acara ini saya juga mendapat keas pengembangan diri, dan saya memilih kelas Akting dan Seni, karena memang jiwa saya ada di sana, Seni.

Acara yang dilaksanakan pada bulan Mei 2013 ini memberikan warna yang berbeda buat saya. Bisa dikatakan saya kenal semua orang di ASEAN. Saya punya teman dari 10 negara ASEAN, dan saya tidur sekamar dengan Mbak" cantik asal Myanmar. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa lolos ke acara semacam ini. Di acara ini saya benar - benar merasa berkembang. Meskipun awalnya sedikit malu" karena setiap hari dan detik harus ngomong pake bahasa Inggris. Takut Salah Grammar, tp oke lah let it flow. 




Di acara ini pula saya mendapat kesempatan untuk menjadi seseorang yang mempresentasikan hasil pemikiran saya tentang Education for Sustainable development di depan teman2 dari negara lain yang ternyata mereka juga menyetujui pemikiran saya yang saya adopsi dari beberapa dosen IlPem UNDIP. (Terimakasih Pak Budi atas jawaban di Chat Whats App, pak Ghulam atas cerita2nya selama kuliah, dan semua dosen lainnya). Setidaknya saya tahu bahwa mereka (temen2 dari negara lain) kadang kurang paham tentang sustainable development yang ternyata banyak korelasinya dengan study yang lain (terimakasih Kurikulum di Indonesia yang menyediakan BANYAK SEKALI mata pelajaran).

Selain itu, seperti biasa tiada acara international tanpa adegan "pamer" negara. Di kegiatan ASEAN Night, saya dan teman2 Indonesia lainnya berhasil menghipnotis temen2 lainnya dengan suguhan penampilan saman, tari jejer, fashionshow dan lagu Tanah Air. Nah di Lagu Tanah Air ini, saya sendiri sempat nangis. Baru saja saya erasakan makna lagu itu. terlebih saya dipercaya oleh teman2 Indonesia untuk jadi penyanyi lagu ini. Fix saya berkaca - kaca, merindng disco, dan rasanya pingin nyanyiin lagu ini di telingga para pejabat yang korup biar mereka sadar betapa jahatnya mereka..hahaha. Pokoknya malam itu saya bangga luar biasa jad orang Indonesia. setidaknya semangat keindonesiaan saya naik 3 level.

Skip, Asean Night, di sesi kelas Akting, saya dan kelompok saya menampilkan role play dengan tema unity. Di akhir penampilan kami, lagi-lagi saya dipercaya untuk nyanyi lagu michael jackson, We Are The World. Dan betapa syahdunya kita semua pemuda pemudi ASEAN saing berjabat tangan dan begitu akrab. Love it.

Semua memori itu masih saya ingat, terlebih saya punya banyak sahabat baru : Tarn (Thai), ThuThu(Myanmar), AR(Filipino), May(vietnam), Siang, Marsha,Joycelin(Spore), Yusof( Malaysia), Hanif, Hareef, Zammy(Brunai) dll. rasanya sedih kalau ingat hari - hari terakhir saya disana. dan janji ini masih saya ingat "NEVER SAY GOOD BYE, BUT UNTILL WE MEET AGAIN"

Selasa, 09 April 2013

INTERNALISASI NILAI – NILAI PANCASILA SEBAGAI FONDASI RESTORASI KEBIJAKAN EKONOMI – POLITIK INDONESIA BERBASIS KERAKYATAN

Artikel ini ditulis untuk lomba debat politik ceria IPB 2012 bersama Indra Diki Dewantara dan M. Agus Nurkholis


Politik dan ekonomi merupakan dua bahasan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Perjalanan perkembangan politik dan ekonomi di berbagai Negara di belahan dunia pun mengalami banyak pembedaan makna tergantung pada ideologi yang dianut oleh suatu Negara, seperti paham sosialis-komunis, kaptilais, dan liberalisme. Begitu pula dengan Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai ideology, landasan Negara, sumber hokum, pandangan hidup bangsa, dan nilai – nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Namun, derasnya pengaruh globalisasi yang sedikit demi sedikit meruntuhkan nilai-nilai pacasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan benegara di Indonesia membuat kehidupan di dalamnya pun sudah tidak lagi mencerminkan nilai-nilai pancasila yang sesungguhnya, termasuk dalam bidang ekonomi dan politik sebagai pilar penting suatu Negara.
Seiring dengan perkembangan zaman, kondisi ekonomi-politik di Indonesia semakin memperihatinkan. Diawali dengan ketidakjelasan sistem yang semakin berbelit – belit, “proyek kebijakan” yang mengatas namakan rakyat, hingga faktor eksternal yang tidak mampu dikendalikan oleh bangsa Indonesia sendiri. Besarnya pengaruh golabalisasi pasca reformasi, telah merubah nilai-nilai fundamental ekonomi yang berpihak kepada para pengusaha “bedompet tebal” dan membunuh ekonomi kerakyatan. Fenomena demikian pun terjadi dalam kehidupan politik Indonesia yang saat ini syarat akan manipulasi dan “birokrasi persaudaraan”. Pun lebih jauh, penetapan-penatapan kebijakan yang kurang sensitif terhadap situasi dan kondisi masyarakat membuat keadaan politik dan ekonomi di indonesia sulit untuk disesuaikan dengan kebijakan yang tepat.