Sabtu, 30 Maret 2013

Setback Theory

okay karena saya bingung mau post apaan, ini saya post hasil tugas saya sendiri aja deh...ini di matakuliah Study Legislasi
check it out ::

Setback Theories Study Legislasi
.    Teori Sumber Kekuasaan / Legitimasi :
1.      Teori Teokrasi
Asal / Sumber kekuasaan adalah dari Tuhan. Teori ini berkembang pada jaman pertengahan, yaitu abad V sampai pertengahan abad XV. Peganut teori ini antara lain Augustinus, Thomas Aquinas dan Marsilius.

2.      Teori Hukum Alam
Teori ini menyatakan bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat. Dimuai dari kaum monarkomaken yang dipelopori oleh Johannes Althusius, telah mengatakan bahwa kekuasaan itu berasal dari rakyat dan asal kekuasaan yang ada pada rakyat ini tidak lagi dianggap dari Tuhan, melainkan dari alam kodrat. Kemudian kekuasaan yang ada pada rakyat ini diserahkan kepada seseorang, yang disebut raja, untuk menyelenggarakan kepentingan masyarakat.
(Sumber : Soehini, SH, Ilmu Negara, 1998, hlm. 149-150)

    Teori Pemegang Kekuasaan Tertinggi / Kedaulatan
3.      Teori Kedaulatan Tuhan
Teori ini berkembang pada abad pertengahan. Menurut teori ini kekuasaan tertinggi ada pada Tuhan atau dengan lain perkataan kekuasaan tertinggi adalah dimiliki oleh Tuhan.
Dalam perkembangannya teori ini sangat erat hubungannya dengan perkembangan agama baru yang timbul pada saat itu, yaitu agama Kristen (Katholik) yang kemudian diorganisir dalam suatu organisasi keagamaan, yaitu gereja, yang dikepalai oleh seorang Paus.

4.      Teori Kedaulatan Negara
Para penganut teori inimenyatakan bahwa kedaulatan tertinggi itu bukan pada tangan Tuhan, tetapi dimiliki oleh negara. Negaralah yang menciptakan hokum, jadi segala sesuatu harus tunduk pada negara. Negara di sini dianggap sebagai suatu keutuhan yang menciptakan peraturan – peraturan hokum. Oleh karena itu, adanya hokum itu karena adanya negara, dan tiada satu hukumpun yang berlaku jika tidak dikehendaki  oleh negara. Penganut teori ini antara lain adalah Jean Bodin dan George Jellinek.

5.      Teori Kedaulatan Hukum
Menurut teori ini yang memiliki bahkan merupakan kekuasaan tertinggi dalam suatu negara adalah hokum itu sendiri. hal ini dikarenakan baik raja maupun rakyat, bahkan negara itu sendiri tunduk kepada hokum. Semua sikap, tingkah laku dan perbuatannya harus sesuai atau menurut hokum. Jadi menurut Krabbe yang berdaulat adalah hokum.
Karena yang berdaulat adalah hokum, maka Krabbe menjelaskan bahwa sumber hokum adalah rasa hokum yang terdapat pada dalam masyarakat itu sendiri. rasa hokum ini dalam bentuknya yang masih sederhana, jadi yang masih bersifat primitive atau yang tingkatannya masih dalam instink hokum, sedang dalam bentuknya yang lebih luas disebut dengan kesadaran hokum.
Jadi menurut Krabbe hokum itu tidak timbul akibat kehendak negara, dan dia memberikan kepada hulum suatu kepribadian sendiri. selain itu hokum juga berlaku terlepas dari kehendak negara.

Jumat, 29 Maret 2013

Thailand in Action


Oke mungkin ini telat banget postingnya, maklumlah setelah sekian lama sibuk dengan ini itu baru sempet lagi nulis di blog. oke kali ini saya akan berbagi tentang pengalaman Student Exchange saya sewaktu semester 2 ke semester 3 (skrng padahal semester 4)

Thanks a lot to God, Allah SWT yang udah memberi aku kesempatan buat pergi ke Thailand sebagai salah satu delegasi dari Indonesia di pertukaran pelajar Art Immersion and Student Exchange Fieldtrip bersama ASEAN Youth Friendship Network. That was my unforgettable experiences dimana aku bisa menjadi duta budaya Indonesia bersama temen – temen dari seluruh Indonesia (kita semua ber 20, ada yang dari UGM, UNS, UI, UNPAD, Sanatadharma, UNSOED, UIN Jakarta, bahkan seharusnya adapua yang dari UNCEN Papua *wow). Oke gak usah lama – lama ini ceritaku di Thailand.

Kita berangkat dari Indonesia tepatnya dari Soekarno Hatta Intl. Airport. Waktu itu proses keberangkatan kita dibagi menjadi dua kloter. Kloter pertama diantaranya ada aku. Kita berangkat dari Indonesia tanggal 31 Agustus 2012, yah masih bau bau lebaran gitu deh.

Singkat cerita, penerbangan dari Indonesia jam 7 dan sampai di Bandara Survanabhumi Thailand sekitar jam 10.30. Petualangan ngebolangpun akhirnya dimulai. 

Dari sekian banyak delegasi itu, gak ada yang bisa bahasa Thailand, apalagi baca tulisnnya yang kriting itu. So, kita semua hanya mengandalkan bahasa Inggris. Sayangnya gak semua orang Thailand bisa bahasa Inggris. Akhirnya munculah bahasa isyarat (itu satu - satu jalan). Di Thailand, kita gak ditempatkan di Kota Bangkok, tapi di Chiang Mai. FYI, Chiang Mai adalah daerah Thailand Utara yang dulu sebagai pusat kerajaan Lanna, sedangkan Bangkok dulu dibawah kerajaan Siam. Untuk sampai ke CM, kita harus naik bis atau kereta, sebenarnya pesawat bisa sih, tapi kita mau ngirit *maklum anak kos. akhirnya kita naik kereta.

sebuah pengalaman indah naik kereta di Thailand. Mungkin saya sebagian blogger di sini udah ada yang tahu kereta di sana kaya apa, oke aku ceritain lagi. Kereta di sana enak banget loh, bisa tidur kita, karena di malam hari kursi disulap menjadi kasur. kasur itu ada yang up dan down (yang dibawah lebih mahal karena lebih luas). asik si asik, tapi yang buat ga asik adalah perjalanannya 20 jam dan keretanya berjalan sangaaaaaaaaaaaaaaat lambaaaaaaaaaaaaaaaaaaat. bahkan sama motor honda 70 aja cepet motornya ^^,

akhirnya kita sampai juga di CM pada tanggal 1 Agustus jam 4 sore..Di sana kita langsung di jemput sama LO, dan mulailah kita berbaur dengan warga CM dan pastinya mahasiswa CM.

Sempat culture shock juga disana karena begitu banyak angjing berkeliaran. selain itu jadwal kuliah yang sampe malam banget bikin kita cape juga. Tapi semua itu terbayar dengan ilmu dan pengetahuan yang kita dapat. Apalagi punya pengalaman rasanya duduk di bangku kampus Chiang Mai University itu anugrah Allah banget terlebih kita ada project ngajar Bahasa Indonesia disana.

All in All that's great moment.....(bersambung yaaaaaaaaaa --> bisa foto atau lanjutan ceritanya)

Sabtu, 30 Juni 2012

TITI KALA MANGSA (Pada Suatu Ketika)


Titi kala mangsa, atau pada suatu ketika merupakan sebuah mahakarya sujiwo tejayang pertama kali aku kenal sewaktu aku SMA. Titi Kala Mangsa, sebuah kata yang simple namun sangat bermakna. Terlepas dari makna lagu titi kala mangsa sendiri, bagi saya iya benar, titi kala mangsa memiliki banyak arti. Pada suatu ketika, ketika ketika baru saja dilahirkan, semua orang berbahagia menyambut kedatangan kita ke bumi yang indah ini. Pada suatu ketika, ketika kita mulai beranjak dewasa, ketika kita mulai belajar untuk menjalani hidup sendiri, ketika kita mulai mengenal orang lain dan berkoloni bersama mereka, ketika kita mulai menata diri dan hidup kita untuk mempersiapkan kehidupan yang matang. Pada suatu ketika, kita mulai beranjak lebih dewasa lagi, memasuki taraf kematangan hidup, dan berkecimpung dengan kehidupan yang lebih kompleks, penuh lika liku, penuh peluh, penuh canda dan tawa, penuh penghianatan, penuh cinta, penuh kasih bahkan penuh kemunafikan. Pada suatu ketika, ketika nanti kita memiliki keluarga sendiri, ketika kita menimang anak kita sendiri dan harus membagi cinta kasih kita terhadap diri sendiri, pasangan hidup dan anak-cucu kita. Pada suatu ketika, ketika kita mulai menua dan kehilangan banyak memori tentang masa – masa kejayaan diri kita. Pada suatu ketika kita ditingalkan orang  orang yan kita sayangi, anak – anak yang mulai meniti fase kehidupan yang pernah kita rasakan, orang – orang tersayang yang kemudian menghadap sang kuasa. Dan Pada suatu ketika, kita yang meninggalkan mereka.

Sebuah tulisan sangat ringan dalam kesendirian di kamar Kos, ditemani alunan smooth jazz Kenny G, disela sela persiapan UAS kebijakan public, saat temanku meminta maaf padaku.
Love you All……:*

Rabu, 20 Juni 2012

PEMIMPIN "SANTUN"


Santun, Siapa orang yang tidak tahu kata ini. Santun sangat berkaitan dengan Unggah Ungguh atau Tindak Tanduk Seseorang. Santun adalah sebuah sikap yang mencerminkan sisi baik, kalem, bersahaja, “nerimo” meskipun bukan berarti pasrah, tidak “pecicilan”, sopan, dan yah segala yang baik – baik. Bahkan menurut saya, santun berada pada posisi atau tangga yang lebih tinggi dari sekadar sopan.
Kita sudah belajar tentang santun sejak kita berada di Sekolah Dasar atau bahkan pada saat Taman Kanak Kanak (bagi sebagian yang mengenyam jenjang ini). Dulu waktu kita SD, maka wujud santun kita terhadap orang yang lebih tua yang selalu diajarkan disekolah antara lain adalah mencium tangan orang tua (berpamitan) ketika akan pergi, jalan dengan sedikit membungkukkan badan terutama bagi cultur Jawa, menyapa orang yang bertemu, menyebar senyum, dan hal – hal lainnya yang menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang memiliki kebaikan dan tata karma sempurna. Hal tersebut memang sangat terpuji.

Selasa, 05 Juni 2012

Mengapa? Kapan? dan Bagaimana?


            Semua pasti tidak asing lagi dengan kata Tanya Kapan, Mengapa dan Bagaimana. Pelajaran tentang hal ini sudah kita dapatkan bahkan semenjak kita berada di Sekoah Dasar. Masih sangat saya ingat pada pertengahan usia saya dalam menempuh jenjang pendidikan Dasar (sekitar kelas 4 atau 5), bu guru saya (yak arena kebanyakan guru SD adalah Bu Guru) sering memberikan saya Pekerjaan Rumah terutama untuk mata pelajaran bahasa Indonesia berupa membuat kalimat dengan kata Tanya, baik salah satu dari rumpun kata Tanya 5W+1H atau salah satunya. Dulu sewaktu saya berusia pada “zaman” itu tidak jarang saya meminta bantuan kepada kakak, orang tua, bahkan (alm) kakek saya. Rasa – rasanya membuat kalimat Tanya saja berat dan susah sekali untuk saya. Seiring dengan bertambahnya ilmu dan jenjang pendidikan saya, membuat kalimat Tanya seperti itu sudah merupakan hal yang tidak susah lagi (untuk hal – hal sepele seperti sewaktu saya SD). Namun saat ini saya kembali merasa “tergelitik” dan membangkitkan “libido” keingin tahuan saya tentang korelasi dari kata Kapan, Mengapa dan Bagaimana dengan perkembangan sebuah bangsa.
                Sepintas mungkin hasil asumsi saya ini terkesan membingungkan. Mungkin banyak yang bertanya apa hubungannya pelajaran yang saya dapat dari SD ini dengan bangsa dan Negara. Kapan, Mengapa dan Bagaimana merupakan tiga kata Tanya yang secara makna tidaklah susah. Kapan sejas menanyakan tentang waktu. Mengapa menanyakan tentang alasan, dan Bagaimana menanyakan keadaan, cara, proses, dan step/jalan. Namun setelah saya SMA saya pernah mendengar pendapat dari teman saya bahwa ia pernah berkata “moto saya itu karena saya ingin dari entrepreneur sukses maka aku harus merupah kapan menjadi bagaimana”. Dari kata teman saya itu hal yang saya tangkap adalah bahwa ketika kita membahas kapan, maka kita hanya akan berbicara mengenai waktu dan kata kapan ini selanjutnya saya asumsikan sebagai “jebakan” imajinasi. Ketika kita hanya berkutat dengan kata kapan maka kita hanya akan membahas waktu, dan apabila waktu itu (tidak sengaja) terlewat, maka selamanya kapan akan menjadi Trending Topic dalam mindset kita. Sementara ketika kita berbicara bagaimana maka disamping kita membicarakan mengenai waktu, kita juga membahas mengenai perencanaan strategis, strategi jitu, bahkan implikasi lebih jauh dari hal yang ingin kita lakukan.